Mengenal Sejarah Narkotika

access_time | label Berita

Sejarah narkotika hampir seumuran keberadaan manusia di muka bumi. Referensi penggunaan jus bunga poppy sebagai obat sudah sangat tua. Theophrastus sudah menyebutkan keutamaannya pada abad ke-3 SM. Dokter-dokter Arab pun mendukung penggunaan opium atau candu dalam bentuk pil.

 

Selama berabad-abad, opium (Papaver somniferum) adalah produk obat dan juga untuk kesenangan. Di Roma, opium bersama dengan tepung merupakan komoditas dengan harga terkendali yang tidak memungkinkan spekulasi. Pedagang Arab memperkenalkan opium atau candu tersebut ke Timur yang kemudian digunakan untuk melawan penyakit disentri. Paracelsus mempopulerkan penggunaan opium di Eropa, yang kemudian tidak digunakan lagi karena toksisitasnya. Heroin adalah salah satu jenis narkoba turunan dari opium itu. Seseorang yang memiliki ketergantungan obat, memerlukan rehabilitasi narkoba.

 

Kata opium berasal dari nama Yunani opion (jus), karena diperoleh dari jus bunga poppy. Opium mengandung lebih dari 20 senyawa alkaloid berbeda. Beberapa yang utama adalah papaverine, tabaine, morphine dan noscapine. Opium adalah tumbuhan semusim yang cuma dapat dikembangbiakkan di kawasan pegunungan daerah subtropis. Tinggi tumbuhan ini cuma satu meteran. Memiliki bentuk daun jorong dan sepanjang tepiannya bergerigi. Nah, untuk bunga memiliki tangkai yang panjang yang tumbuh dari ujung ranting. Satu tangkai cuma memiliki satu bunga saja.

 

Opium Sebagai Obat

 

Opium sebagai obat diberikan dengan berbagai cara. Bubuk dan preparat opium yang mengandung alkohol (laudanum dan tincture) diminum secara oral. Ketika opium disajikan dalam bentuk bahan padat maka untuk menggunakannya harus dihancurkan lebih dulu dan kemudian dihisap menggunakan semacam pipa. Efek opium mulai terasa setelah 15-30 menit masuk ke tubuh. Berkisar 3-5 menit setelah merokok, dan itu akan berlangsung 4-5 jam. Setelah mencapai otak, alkaloid opium akan menempati reseptor spesifik untuk neurotransmiter yang disebut endorfin, yang terjadi secara alami di dalam otak manusia.

 

Mulai Abad Pertengahan, para ahli obat membuat berbagai alkoholat dan hidrolat, yang diperoleh dengan menyuling tanaman dengan uap alkohol atau dengan uap air. Alcoholates dibagi menjadi alcoholatures dan tincture. Yang pertama berasal dari tanaman segar poppy dan yang tincture dibuat dari tanaman kering. Kedua bahan tadi kemudian digunakan sebagai analgesik umum dan melawan insomnia, kontraksi rahim dan gangguan lambung. Ada juga yang disebut bubuk Dover (mengandung hingga 95% opium) dan tincture opium (5 g ekstrak opium diencerkan dalam 95 g alkohol) yang cukup populer sampai Thomas Sydenham menemukan laudanum pada tahun 1660.

 

Laudanum atau tincture opium dibuat dari bahan-bahan berikut : anggur Spanyol 1 pon; opium 2 ons; kunyit 1 ons; kayu manis dan bubuk cengkeh sedikit. Proses pengolahannya yaitu masak semua bahan tadi dengan api kecil, dalam bak air, selama dua atau tiga hari, sampai cairan memiliki konsistensi tertentu. Selanjutnya ramuan itu disaring dan disimpan untuk digunakan.

 

Sejarah Opium/Candu di Indonesia

 

Sejarah narkotika di Indonesia dimulai di Jawa. Candu telah diketahui masyarakat Jawa dari ratusan tahun silam. Paling tidak abad 17 saat otoritas Kolonial Belanda memilih candu sebagai komoditas perdagangan utama yang dimonopolinya. Begitu terkenalnya candu sehingga ahli candu Henri Louis Charles Te Mechelen tahun 1882 mengatakan jika satu dari 20 orang Jawa menggunakan candu. Perilaku mengisap candu tidak cuma masyarakat Jawa saja namun juga meluas ke beberapa daerah koloni Eropa di benua Asia.

 

Opium itu tak bisa dibudidayakan di tanah Jawa, namun dihadirkan dari wilayah lain yaitu Persia dan Turki. Diduga para pedagang atau saudagar Arab yang mendatangkan candu ke Jawa. Namun belum didapatkan bukti lain yang menunjukkan candu ini mulai diperjualbelikan di Jawa. Belanda memegang monopoli perdagangan candu di Indonesia khususnya di Jawa kala itu, sementara untuk pelaksana yaitu para pedagang China.

 

Berbagai kalangan di Jawa menikmati candu mulai dari kalangan atas yang menganggapnya sebagai gaya hidup dan juga suguhan pada tamu hingga kalangan para pekerja perkebunan yang menikmatinya untuk sekedar bisa berkhayal dan mengusir pegal-pegal di badan.

 

Sumber ashefagriyapusaka.co.id


Tags

Penulis

galih ega farrasetia
Saya Galih Ega Farrasetia, kontak saya di 089606730027.

Komentar