Pentingnya Peran Orangtua dalam Meningkatkan Nafsu Makan Bergizi pada Anak

access_time | label Berita

Oleh: Rahmah Saniatuzzulfa, M.Psi., Psikolog/ Dosen Prodi Psikologi FK UNS

Gizi adalah zat kimia yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menghasilkan energi, memelihara jaringan tubuh, dan mengatur proses di dalam tubuh. Gizi merupakan kebutuhan yang mutlak dan harus dipenuhi oleh seseorang. Dengan gizi yang cukup, seseorang dapat melakukan kegiatan hariannya dengan optimal dan memiliki kualitas hidup yang baik. Gizi yang cukup juga memungkinkan seseorang untuk terhindar dari beragam penyakit yang mungkin timbul. Zat gizi dibagi menjadi gizi hewani, yang diperoleh dengan mengkonsumsi produk olahan hewani, dan zat gizi nabati, yang diperoleh dengan mengonsumsi buah, sayur, dan biji-bijian (Adriani dan Wirjatmadi, 2006).

Sayangnya, belum semua orang menyadari bahwa gizi merupakan hal yang penting bagi tubuh. Berdasarkan data dari Balitbangkes 2016, masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dalam mengonsumsi sayur dan buah. Rata-rata masyarakat Indonesia hanya mengonsumsi kurang dari 100 ton sayur dan buah dalam setahun. Kurangnya konsumsi sayur dan buah ini bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan, seperti munculnya penyakit jantung, stroke, diabetes, dan penyakit degeneratif lainnya. Dampak panjangnya ialah rendahnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia, yang hanya mencapai 70,1 tahun, berbeda jauh dengan masyarakat Singapura dan Jepang yang masing-masing memiliki angka harapan hidup 82,2 tahun dan 87,2 tahun.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (2013) dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, ada sebanyak 53,1% masyarakat yang mengonsumsi makanan berisiko seperti makanan atau minuman manis lebih dari satu kali dalam sehari. Ada sebanyak 40,7% masyarakat Indonesia yang mengonsumsi makanan berlemak, berkolesterol per harinya, dan hampir empat dari lima penduduk Indonesia mengkonsumsi penyedap lebih dari satu kali dalam sehari.

Berdasarkan hasil survey mengenai makanan bergizi, diperoleh hasil bahwa 56,6% responden tidak peduli dengan apa yang dikonsumsinya. Hanya sebanyak 43,5% responden yang memperhatikan makanan yang mereka konsumsi setiap harinya.

Almatsier, Soetardjo, dan Soekarti (2011) menuliskan minimnya konsumsi masyarakat terhadap makanan bergizi disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu minimnya pengetahuan mengenai makanan bergizi, kurangnya waktu untuk menyiapkan makanan bergizi, dan lainnya. Hasil survey dari Herbalife Nutritions yang bertajuk “Asia Pacific Healthy Aging Survey” menyatakan bahwa sesungguhnya masyarakat Indonesia memiliki optimisme bahwa makanan yang sehat dan bergizi mampu membantu mereka tetap sehat dalam menghadapi pertambahan usia. Namun, kendala waktu menjadi penghalang masyarakat Indonesia untuk menerapkan pola hidup sehat. Selain itu, responden menyatakan enggan menerapkan pola hidup sehat karena minimnya motivasi dan beranggapan bahwa gaya hidup sehat membutuhkan biaya yang tidak murah.

Selain itu, saat ini tidak dipungkiri banyak orangtua yang mengambil praktis ketika memberikan makanan pada anak. Tidak jarang mereka memberikan makanan junkfood ketika anaknya sulit makan. Anggapan orangtua adalah yang terpenting anak mau makan, tanpa mereka mempedulikan kandungan makanan yang dikonsumsi anak. Di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan, akumulasi pengalaman pertama anak dengan makan dan makanan bergizi dapat mempengaruhi perkembangan kesukaan yang mendorong pemilihan makanan dan regulasi diri anak sehingga terbentuk pola makan yang sehat. Kedua hal inilah yang menjadi pondasi pembentukan pola makan sehat pada anak (Contento, 2011).

Pendidikan gizi merupakan upaya preventif dalam menghadapi berbagai masalah terkait gizi. Penelitian Adriyana (2013) menunjukkan bahwa Peru berhasil menurunkan angka kejadian stunting selama 3 tahun dari 54% menjadi 37% melalui pendidikan gizi dan Amerika Serikat berhasil menekan angka obesitas selama 10 tahun terakhir dan mampu menekan biaya kesehatan yang diakibatkan obesitas hingga 12 triliun rupiah melalui pendidikan gizi salah satunya program makan di sekolah (School Meal Program).

Hari Kesehatan Dunia yang jatuh pada tanggal 7 April setiap tahunnya merupakan peringatan yang didukung oleh World Health Organization (WHO) dalam rangka memperingati pendirian WHO dan upaya untuk mengampanyekan masalah-masalah kesehatan global setiap tahunnya. WHO sendiri menyelenggarakan berbagai kegiatan di berbagai level untuk mendukung peningkatan kesadaran masyarakat mengenai masalah kesehatan dan mewujudkan dunia yang lebih baik.

Untuk memberikan kesadaran pada masyarakat mengenai pentingnya memperhatikan kesehatan gizi sebagai salah satu preventif pencegahan penyakit, maka pengabdian ini berfokus pada pemberian penyuluhan yang bertemakan cara meningkatkan nafsu makan bergizi pada anak. Beberapa materi yang diberikan antara lain mengenai permasalahan gizi pada anak, penyebab anak enggan mengkonsumsi makan makanan bergizi, dan cara memotivasi anak mengkonsumsi makanan bergizi. 

Peserta dalam pengabdian ini adalah masyrakat umum yang dihadiri sebagian besar oleh orangtua. Selain itu terdapat juga mahasiswa dan para pengusaha catering yang turut berpartisipasi dalam acara ini. Acara berlangsung selama kurang lebih 2 jam yang diadakan di Atrium lantai 2 Transmart Surakarta.

Dalam acara tersebut juga dilakukan sesi tanya jawab dengan psikolog mengenai cara-cara yang dilakukan dalam memotivasi anak mengkonsumsi makanan bergizi, cara menyajikan makanan bergizi yang dapat menarik minat anak-anak dan cara mengenalkan pada anak  makanan bergizi.

Harapan dari diadakannnya acara ini adalah menciptakan masyarakat khususnya orang tua agar memiliki pengetahuan, pemahaman mengenai dampak negatif dari kurangnya gizi pada anak, sehingga orangtua mampu menerapkan cara-cara yang efektif dan kreatif dalam memotivasi anak mengkonsumsi makanan bergizi. (***)



Sumber : https://uns.ac.id/id/uns-update/pentingnya-peran-orangtua-dalam-meningkatkan-nafsu-makan-bergizi-pada-anak.html

Tags

Penulis

Berita Kampus
Namaku Tom, saya akan memberikan informasi/ berita seputar kampus yang ada di Indonesia

Artikel Terkait

Komentar