Kesehatan Mental Penting Untuk Mewujudkan Kesejahteraan

access_time | label Berita

Bertepatan hari jiwa sedunia, Fakultas Psikologi UGM menggelar Talkshow Membangun Kesehatan Jiwa yang Komprehensif. Selain itu, melalui Center for Public Mental Health, Fakultas Psikologi melaunching dua buku panduan, yaitu Buku Kampus Sejahtera dan Buku Pencegahan Bunuh Diri.

Dekan Fakultas Psikologi UGM, Prof. Dr. Faturochman, mengatakan kesehatan mental sama halnya dengan kesehatan fisik, ia menjadi sangat vital untuk mewujudkan kesejahteraan. Fakta menunjukan bila terdapat kecenderungan meningkatnya masalah kesehatan mental di tengah masyarakat.

“Persoalan individual dalam keluarga, di sekolah dan kampus, tempat kerja dan lingkungan sosial memicu masalah-masalah itu. Oleh karena itu, CPMH Fakultas Psikologi UGM sadar betul bahwa rumah sendiri yaitu kampus juga harus diperhatikan. Untuk itu, Kampus Sejahtera juga menjadi program kerja," katanya.

Menurutnya, di Yogjakarta banyak kampus dan bila kampus-kampus tersebut sejahtera akan membantu banyak pihak, termasuk pihak kepolisian. Sebagai inisiatif awal, menurutnya, buku ini masih perlu masukan banyak pihak untuk penyempurnaan.

Sementara itu, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D, Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, menyatakan masalah kesehatan jiwa di dunia saat ini mencapai 450 juta orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 1 juta memiliki kecenderungan untuk bunuh diri setiap tahunnya.

“4-6 terjadi disabilitas neuropsychiatric terkait dengan depresi penggunaan alcohol, schizophrenia, bipolar dan lain-lain," katanya.

Mengutip data Riskesdas, ia menyebutkan prevalensi gangguan mental emosional mencapai 6 persen untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta jiwa. Angka ini cukup besar sekali dibandingkan dengan gangguan lain, seperti gejala-gejala depresi, kecemasan. Sementara prevalensi gangguan jiwa berat schizophrenia mencapai 1,7 per 1.000 penduduk atau 400 ribu orang atau 14,3 persen diantaranya pernah atau sedang dipasung.

“Angka yang dipasung di desa tentu lebih tinggi. Masalah kesehatan jiwa ini di tahun 2013 terungkap gangguan kejiwaan mencapai 1,7 persen, naik menjadi 7 persen di tahun 2018 dan data ini ada sebelum pilkada legislatif. Meski begitu UU Kesehatan Jiwa menjamin untuk setiap orang dapat mencapai kualitas hidup yang baik dan bagaimana dengan orang yang mengalami gangguan kejiwaan," tuturnya.

Dr. Diana Setiyawati, M.HSc.Psy, Psikolog dari CPMH Fakultas Psikologi UGM, menambahkan sumbangan dua panduan buku ini merupakan hasil dari pengalaman action research selama tiga tahun bersama Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga di DIY. Meskipun pada awalnya didahului dengan setting pada sekolah kemudian diadaptasi ke dalam setting kampus.

“Buku-buku ini sudah disirkulasikan pada seluruh ahli jiwa di Indonesia. Kita akan terus kembangkan buku ini menjadi modul-modul yang lebih aplikatif untuk masyarakat. Paling tidak dengan buku ini bunuh diri itu bisa dicegah dan bagaimana kita bisa mendekati atau menolong orang dengan kecenderungan bunuh diri yang bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak harus oleh profesional kesehatan," imbuhnya. (Humas UGM/ Agung)


Sumber : https://ugm.ac.id/id/berita/18566-kesehatan-mental-vital-untuk-mewujudkan-kesejahteraan

Tags

Penulis

Berita Kampus
Namaku Tom, saya akan memberikan informasi/ berita seputar kampus yang ada di Indonesia

Artikel Terkait

Komentar