“Wonder” Aplikasi untuk Tangani Kekerasan Perempuan dan Anak

access_time | label Berita

Perempuan dan anak Indonesia hingga kini masih rawan mengalami kekerasan. Begitu tingginya kasus kekerasan terhadap mereka sehingga Indonesia masuk dalam daftar sepuluh negara paling tidak aman bagi perempuan. Survei Thomson Reuters Foundation tahun 2018 menyebut Indonesia tertinggi kedua di Asia Pasifik setelah India untuk kasus-kasus ini.

Kurangnya respons cepat terhadap kedaruratan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak serta masih lemahnya partisipasi masyarakat dalam masalah yang dianggap tabu ini merupakan salah satu penyebabnya. Oleh karena itu, selama dua tahun dirancang sebuah aplikasi bernama “Wonder”.

Aplikasi inipun kemudian diluncurkan di Grha Sabha Pramana, Bulaksumur pada hari Jumat (13/12) dihadiri sejumlah pejabat diantaranya Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU, ASEAN Eng, Staf Ahli Menteri Sosial Bidang Teknologi Kesehatan Sosial, Harry Z. Soeratin, Deputi Partisipasi Masyarakat Kementerian Kebudayaan, Indra Gunawan, SKM., MA., dan sejumlah pegiat peduli perempuan dan anak.

Sebagai pihak yang turut mengembangkan aplikasi ini, Universitas Gadjah Mada (UGM) merasa peduli untuk kasus-kasus semacam ini, sebab kekerasan terhadap perempuan juga terjadi di sektor pendidikan. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir UGM memiliki pengalaman nyata terkait hal ini, seperti kasus pelecehan dosen kepada mahasiswa dan dugaan perkosaan mahasiswa dalam program KKN menjadi pengalaman pahit bagi UGM.

“Kita terus berupaya kasus itu tidak terulang. Saat ini UGM juga menerbitkan atau sedang dalam proses menerbitkan peraturan rektor khusus tentang penanganan dan penanggulangan pelecehan seksual. Peraturan saat ini sedang direview oleh senat akademik dan mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa kita terbitkan,” kata Rektor.  

Menurutnya, UGM kini menerapkan Manajemen Etika dan Penguatan Integritas (MEPI). Program ini menekankan semua sivitas akademika UGM, memperkuat etika khususnya dalam masalah-masalah terkait perempuan.

Sebagai rektor, ia sependapat bila respons cepat sangat diperlukan dalam melindungi perempuan dan anak dari tindak kekerasan. Pemanfaatan teknologi informasi melalui aplikasi ini dinilai akan sangat membantu.

“Mudah-mudahan aplikasi 'Wonder' ini bermanfaat dan tentu harapan kita semua, kasus-kasus pelecehan dan tindak kekerasan terhadap perempuan semakin berkurang, dan nantinya menjadi tidak ada. Dan jika terjadi kasus maka dengan aplikasi 'Wonder' ini kasusnya bisa teratasi dengan cepat dan ditangani dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.

Indra Gunawan  mengungkapkan ketika mendengar nama aplikasi wonder ini maka barangkali yang langsung muncul di benak adalah karakter pahlawan super perempuan, Wonder Woman. Ia pun memiliki bayangan yang sama.

“Tahunya kalau saya Wonder itu yang teringat, yang ketangkep adalah Wonder Woman. Sebuah film yang kalau kita menyaksikan banyak kehebatan dari perempuan. Jadi, saya langsung mengasumsikan Wonder ini adalah sesuatu yang hebat, dan tentu juga ada keterkaitannya dengan isu-isu perempuan," ucapnya.

Menurutnya "Wonder" memang aplikasi hebat bagi perempuan dan anak Indonesia. "Wonder" akan membantu perempuan dan anak bertindak ketika akan terjadi aksi kekerasan. Meski diluncurkan di Yogyakarta, ia berharap aplikasi ini akan terus dikembangkan di seluruh Indonesia.

“Saya kira kawasan bencana juga akan memerlukannya. Pengalaman terakhir, terkait bencana gempa dan tsunami Palu, kekerasan terhadap perempuan juga terjadi di kawasan hunian sementara. Kita bicara tentang berbagai kasus kekerasan perempuan dan anak, tidak hanya pada kasus kekerasannya saja, tapi juga kasus-kasus di kawasan bencana, ini tentu akan sangat relevan sekali,” imbuhnya.

"Wonder" memang sebuah aplikasi pertolongan cepat dan darurat bagi korban kekerasan. Pengembangnya adalah Yayasan Sebar Inspirasi Indonesia (YSII) dengan dukungan Australia lndonesia Partnership for Justice 2 (AIPJ 2). Dukungan pengembangan juga diberikan oleh Komnas Perempuan dan Universitas Gadjah Mada.

Aplikasi ini digunakan oleh masyarakat umum di satu sisi dan relawan terdaftar di sisi yang lain. Dalam kondisi darurat, korban kekerasan bisa menggunakan "Wonder" untuk mendapatkan pertolongan relawan dengan lebih mudah. Relawan yang ada dalam aplikasi telah diverifikasi serta dilatih oleh lembaga mitra "Wonder Indonesia".

Dalam kondisi darurat, korban kekerasan bisa meng-klik tombol penyelamatan dalam aplikasi. Jika memungkinkan pesan khusus dapat ditambahkan. Relawan yang telah mendaftar dalam radius 3 kilometer, 5 kilometer dan 10 kilometer dari lokasi korban akan menerima notifikasi.

Mereka yang bisa menolong dapat menerima notifikasi tersebut, dan peta akan disediakan oleh aplikasi untuk menuntun relawan menemukan korban kekerasan. Ada tiga fitur dalam aplikasi ini. Pertama adalah penyelamatan, yang merupakan layanan bersifat kedaruratan, diberikan kepada korban yang membutuhkan penyelamatan atau evakuasi segera. Kedua adalah tempat perlindungan yang merupakan layanan untuk korban dalam kondisi terancam dan membutuhkan tempat perlindungan darurat. Fitur ketiga adalah pendampingan, yaitu layanan untuk membantu korban dalam upaya pendampingan menempuh mediasi maupun jalur hukum.

“Lewat aplikasi, layanan relawan bisa terwadahi dan lebih mudah diakses masyarakat dalam kondisi kedaruratan. Aplikasi ini menghubungkan mereka dengan relawan-relawan terdekat yang telah terdaftar dan memiliki ketrampilan dasar sesuai jenis pertolongan yang dibutuhkan,” ujar Direktur Eksekutif YSII, Atika.

Atika juga menambahkan, setiap relawan yang terdaftar pada "Wonder" wajib terafiliasi dengan salah satu organisasi relawan yang terdaftar di Yogyakarta. Hingga saat ini ada sekitar 40 organisasi relawan di Yogyakarta telah menjadi mitra dalam layanan ini. (Humas UGM/ Agung; foto: Firsto)

 



Sumber : https://ugm.ac.id/id/berita/18845-wonder-aplikasi-untuk-tangani-kekerasan-perempuan-dan-anak

Tags

Penulis

Berita Kampus
Namaku Tom, saya akan memberikan informasi/ berita seputar kampus yang ada di Indonesia

Artikel Terkait

Komentar