Budaya , adat istiadat dan "bersimbol agama"

access_time | label Berita

Keaneka ragaman budaya dan adat istiadat inilah yang membuat Indonesia ini besar. Telah kita ketahui lebih dari 1000 bahasa daerah dan 700 lebih perbedaan suku dan juga agama yang berbeda-beda, inilah yang membuat Indonesia ini besar.

Seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya kita memasuki fase dimana zaman ambiguitas dan jeopardy (Berbahaya) ini sangat-sangat mengkhawatirkan, Jangan sampai kita dipecah belah , diadu domba oleh kaum-kaum yang menyukai perpecahan bahkan yang mengatas namakan agama atau "Bersimbol" agama.


Adat istiadat yang kita miliki mampu atau dapat di andalkan untuk menghindari dari perbuatan buruk serta menjaga keharmonisan masyarakat dan menjauhi konflik.


Dalam prinsip orang Kutai yang berada di daerah Provinsi Kalimantan Timur ada istilah "Betulungan Etam Rakat, Etam Jagau" yang artinya "Gotong Royong Kita Bersatu, Kita Kuat" disini mengajarkan bahwa jika kita bersatu kita akan kuat.


Disalah satu bagian Timur Indonesia Masyarat buton , Sulawesi Tenggara juga mempunyai prinsip "Bhinci-Bhinciki kuli" yang bermakna "Setiap orang mencubit dirinya sendiri pasti terasa sakit" 

sehingga prinsip inilah orang-orang buton enggan menyakiti orang lain karena betapa sakitnya disakiti.


Dalam adat budaya jawa juga yang selalu mengajarkan sopan santun , menghormati yang lebih tua memposisikan diri kita agar selalu terjalin hidup yang harmonis.


Di Maluku, ada istilah ale rasa beta rasa (anda rasa saya raya) yang artinya ketika kamu merasakan dan mengalami sesuatu, baik senang ataupun susah, saya juga merasakannya.


Itu sebagian contoh budaya lokal saja , Bahwa kearifan lokal bisa membuat negeri ini kuat dari pengaruh negatif.


Sering saya sampaikan di tulisan-tulisan saya bahwa Indonesia atau kita saat ini berada di tengah-tengah,

Bahwa kita lagi diserang oleh Paham Barat (Westernisasi) dan Paham Timur (Arabinisasi), mulai dari simbol (pakaian) , bahasa bahkan ideologi.


Sehingga terlihat sekarang, Kearifal lokal kita luntur , Gotong royong mulai pudar, Rasa empati sesama mulai hilang yang dulunya tanpa memandang apa backroundnya, sesuatu yang melekatkan kita kepada silaturahim juga mulai hilang, memudarnya kearifal lokal saat ini sangatlah berdampak.


Apalagi kita melihat saat ini bagi yang masih waras,

bahwa kaum-kaum Radikalisme memaanfaatkan situasi ini untuk menyebarluakan ajarannya.

Mereka begitu pintar mengemas ajaran-ajarannya itu agar mendapat simpati publik.

Mereka terlebih dahulu memasuki kepada wanita-wanita terutama remaja yang minim pengetahuannya terhadap agama, Mereka mengemas sebaik mungkin dan menafsirkan ayat sendiri dalam penyampaian agar doktrin yang mereka sampaikan itu tersampaikan dan di benarkan oleh para korban.


Mereka juga pandai dalam pengembangan ajaran mereka melalui teknologi agar propaganda yang mereka lakukan itu berjalan efektif.

Isu-isu yang sekiranya membuat perpecahan antar umat atau golongan itu lah yang mereka sajikan.

Sekarang target mereka para kaum muda-mudi islam bahkan tidak sedikit juga orang tua yang terjerumus kesana.

Praktek dakwah mereka tidak hanya dilakukan di mesjid-mesjid , Pesantren bahkan terang-terangan di sosial media. Bahkan ajaran-ajaran terlebih dahulu yang dibawa oleh pembawa ajaran islam pertama di Indonesia yang berjuang sehingga islam di Indonesia menjadi kaum mayoritas mereka anggap salah dan sesat bahkan ajaran-ajaran itu tidak sesuai syariat islam dan tidak berdalil karena terkontaminasi dengan budaya bahkan di imingi-imingi surga dan bidadari dengan mudah cukup ikut ajaran mereka "astagfirullah" sungguh kejam doktrinnya.


Dengan ini saya selalu mengingatkan kepada rekan-rekan atau sahabat-sahabat semua HATI-HATI , boleh jadi anda sekarang adalah Korban dan Pelaku, karena Korban dan Pelaku ini salah satu tipenya adalah orang yang enggan bersosial sama tentangga , Masyarakat atau orang yang berbeda dengan mereka.

Kelompok Radikal ini sangat tidak menyukai Adat istiadat dan budaya Lokal yang terbukti mampu merukunkan keberagaman dan perbedaan keyakinan.

Justru mereka mau merusaknya dengan kemasan-kemasan yang mereka buat agar orang-orang mengikuti ajaran mereka.


Bersihkan hati dari kebencian, Mari kita jaga sama-sama khas dari Indonesia kita , Jangan beri ruang untuk para mereka yang menginginkan negara kita terpecah seperti negara-negara timur tengah yang di adu domba mereka melalui agama. Kalau bisa kita damaikan seluruh dunia.


"Salam Indonesia"


- Aswindra02

Tenggarong, 08 april 2018

Tags

Penulis

Aswindra Hidayat
Ketua BEM FKIP UNIKARTA Periode 2018/2019 Ketua II PC.PMII Kukar 2018/2019

Artikel Terkait

Komentar