Logo Eventkampus
Perpustakaan judul masih dalam tahap pengembangan, admin siap menampung kritik dan saran
Aktivitas Komunikasi Dalam Pertunjukan Sampyong Di Kabupaten Majalengka
Muhamad Ilham NIM. (2015) | Skripsi | Ilmu Komunikasi
Bagikan
Ringkasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Aktivitas Komunikasi dalam Pertunjukkan Sampyong di Kabupaten Majalengka. Untuk menjelaskan penelitian ini, fokus permasalahan mikro dari penelitian terbagi menjadi situasi komunikatif, peristiwa komunikatif, dan tindak komunikatif dari pertunjukkan sampyong. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi dan didukung oleh teori interaksi simbolik. Informan pada penelitian ini berjumlah empat orang. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi non partisipan, dokumentasi, studi pustaka, dan pencarian internet. Teknik analisis data yang digunakan ialah deskripsi, analisis, dan interpretasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pertunjukkan Sampyong memiliki dua situasi komunikatif, latihan dan pertunjukkan. Peristiwa komunikatif terbagi menjadi: Tempat dan waktu pertunjukkan berlangsung pada acara hajatan, ulang tahun Majalengka, dan acara-acara kebudayaan lain. Pertunjukkan sampyong terdiri dari dua penari dan satu wasit atau biasa disebut malandang. Tujuan dari pertunjukkan sampyong ialah untuk memperkenalkan kesenian khas dari Majalengka, dan juga untuk hiburan. Pertunjukkan sampyng terdiri dari tiga tahap, pembukaan, inti penampilan, dan penutupan. Inti penampilan pada pertunjukkan sampyong saat para pemain sampyong saling bergantian memukul dan dipukul. Peraturan dalam pertunjukkan ini bahwa pemain dapat memukul tiga kali pada bagian betis dan paha belakang. Tindak Komunikatif dalam pertunjukkan sampyong didominasi oleh bahasa nonverbal. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa aktivitas dalam pertunjukkan sampyong terbagi menjadi persiapan dan pertunjukkan. Pertunjukkan sampyong terdiri dari satu wasit atau malandang dan dua pemain sampyong. pertunjukkan ini didominasi oleh komunikasi nonverbal yang tampak pada gerakan-gerakan yang dibuat oleh para pemain sampyong selama melakukan pertunjukkan. Saran peneliti kepada Padepokan Seni Sunda Rancage untuk mengembangkan model pertunjukkan baru dari pertunjukkan sampyong harus mampu membawa perubahan terhadap kesenian sampyong, sehingga kesenian ini akan terhindar dari kepunahan. Kata Kunci : Etnografi Komunikasi, Aktivitas Komunikasi, Situasi Komunikatif, Peristiwa Komunikatif, Tindak Komunikatif, Pertunjukkan Sampyong.
Ringkasan Alternatif
This research aims to find out about Communication Activity On Sampyong Performance In Kabupaten Majalengka. To describe this research, the focus of micro sub-problem is diveded into communicative situation, communicative events, and communicative action on sampyong performance. The method used in this study is a qualitative method with communication ethnography which theory raised by the symbolic interaction. There are 4 (four) informant contributed in this research. Data are obtained from deep interview, non-participant observation, documentation, literary studies, and internet searching. The data techniques used in this research are description, analysis, and interpretation. Result of the research shows that sampyong performance has two communicative situation, practice and performance. The communicative events are divided into: Place and time performance are held such as in hajatan, birthday of Majalengka, and on another cultural events. Sampyong performance has two dancers and one referee or usually call it malandang. Sampyong performance aim to introduce one of typical art from Majalengka, and also for entertainment. Sampyong performance has three steps, which are opening, content, and closing. The key of the performance is when the sampyong players take the turns to hit and beaten. The rules on this performance is that players can hit three times on calfs and hamstrings. Communicative action on sapyong performance is dominated by nonverbal language. The conclution of this research is that activity on sampyong performance devided into the preparation and the performance. Sampyong performance consists of one referee or malandang and two sampyong players . Sampyong performance dominated by nonverbal communication that looks at the movements made by the players during the performance. Researcher suggest to Padepokan Seni Sunda Rancage to developing new models from the sampyong performances must be able to bring changes to sampyong, so this art would not be extinction.Key Word : Ethnography Communication, Communication Activity, Communicative Situation, Cimuunicative Events, Communicative Action, Sampyong Performance.
Sumber