Logo Eventkampus
Perpustakaan judul masih dalam tahap pengembangan, admin siap menampung kritik dan saran
ANALISIS KEMAMPUAN MAHASISWA DALAM PENGGUNAAN UNGKAPAN “SUMIMASEN” DAN “CHOTTO” DARI SEGI FUNGSI DAN MAKNA (Studi Kasus Terhadap Mahasiswa Sastra Jepang Tingkat III Universitas Komputer Indonesia Angkatan 2003/2004)
DICKY RACHMAN SALEH (2006) | Skripsi | Sastra Jepang , Sastra Jepang
Bagikan
Ringkasan
Di dalam bahasa Jepang, banyak kata yang memiliki beragam fungsi, sehingga mengandung makna yang beragam pula. Contohnya adalah kata “sumimasen” dan “chotto”. Penggunaan ungkapan sumimasen dan chotto memang dirasakan cukup sulit oleh para pembelajar bahasa Jepang khususnya para mahasiswa. Pemahaman yang kurang terhadap fungsi dan makna ungkapan sumimasen dan chotto ini dapat menimbulkan salah penafsiran, dan sering terjadi kekeliruan dalam penggunaannya. Padahal ungkapan-ungkapan tersebut sangat berkaitan erat dengan budaya dan sopan santun yang digunakan dalam percakapan bahasa Jepang sehari-hari. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana tingkat kemampuan mahasiswa dalam penggunaan ungkapan sumimasen dan chotto dari segi fungsi dan maknanya, serta untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Yang menjadi sampel penelitian adalah mahasiswa sastra Jepang Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) tingkat III angkatan 2003/2004. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur, media cyber, tes, dan angket (kuesioner). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa tingkat kemampuan mahasiswa dalam penggunaan ungkapan sumimasen berdasarkan hasil tes tertulis adalah 63 (cukup). Sedangkan Tingkat kemampuan mahasiswa dalam penggunaan ungkapan chotto adalah 33(sangat kurang). Faktorfaktor yang mempengaruhi tingkat kemampuan mahasiswa dalam penggunaan ungkapan sumimasen dari segi fungsi dan maknanya berdasarkan analisis data angket adalah cara belajar; intensitas penggunaan bahasa Jepang; dan kurangnya kesadaran untuk meningkatkan kemampuan. Faktor yang mempengaruhi tingkat kemampuan mahasiswa dalam penggunaan ungkapan chotto yaitu, mahasiswa kesulitan dalam memahami ungkapan chotto; kurangnya sumber/literatur; tidak terbiasa menggunakan chotto dalam bahasa Jepang; dan tidak pernah berlatih dengan native speaker (penutur asli). Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis dapat memberikan saran bahwa mahasiswa harus lebih membiasakan diri berlatih berbicara bahasa Jepang minimal dengan teman satu jurusan. Cobalah untuk aktif bertanya dan berdiskusi kepada dosen atau teman, dan membuat kelompok belajar. Jangan merasa cukup hanya dari penjelasan dosen dan materi kuliah saja. Cobalah belajar dengan menggunakan games dan media lainnya agar membuat pelajaran lebih menarik. Belajar bahasa Jepang akan lebih efektif apabila didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai seperti belajar bahasa Jepang dengan mendatangkan native speaker (penutur asli), membuat perpustakaan jurusan (khususnya perpustakaan jurusan bahasa Jepang) dengan menyediakan buku-buku literatur yang menunjang perkuliahan.
Ringkasan Alternatif
Di dalam bahasa Jepang, banyak kata yang memiliki beragam fungsi, sehingga mengandung makna yang beragam pula. Contohnya adalah kata “sumimasen” dan “chotto”. Penggunaan ungkapan sumimasen dan chotto memang dirasakan cukup sulit oleh para pembelajar bahasa Jepang khususnya para mahasiswa. Pemahaman yang kurang terhadap fungsi dan makna ungkapan sumimasen dan chotto ini dapat menimbulkan salah penafsiran, dan sering terjadi kekeliruan dalam penggunaannya. Padahal ungkapan-ungkapan tersebut sangat berkaitan erat dengan budaya dan sopan santun yang digunakan dalam percakapan bahasa Jepang sehari-hari. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana tingkat kemampuan mahasiswa dalam penggunaan ungkapan sumimasen dan chotto dari segi fungsi dan maknanya, serta untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Yang menjadi sampel penelitian adalah mahasiswa sastra Jepang Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) tingkat III angkatan 2003/2004. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur, media cyber, tes, dan angket (kuesioner). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa tingkat kemampuan mahasiswa dalam penggunaan ungkapan sumimasen berdasarkan hasil tes tertulis adalah 63 (cukup). Sedangkan Tingkat kemampuan mahasiswa dalam penggunaan ungkapan chotto adalah 33(sangat kurang). Faktorfaktor yang mempengaruhi tingkat kemampuan mahasiswa dalam penggunaan ungkapan sumimasen dari segi fungsi dan maknanya berdasarkan analisis data angket adalah cara belajar; intensitas penggunaan bahasa Jepang; dan kurangnya kesadaran untuk meningkatkan kemampuan. Faktor yang mempengaruhi tingkat kemampuan mahasiswa dalam penggunaan ungkapan chotto yaitu, mahasiswa kesulitan dalam memahami ungkapan chotto; kurangnya sumber/literatur; tidak terbiasa menggunakan chotto dalam bahasa Jepang; dan tidak pernah berlatih dengan native speaker (penutur asli). Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis dapat memberikan saran bahwa mahasiswa harus lebih membiasakan diri berlatih berbicara bahasa Jepang minimal dengan teman satu jurusan. Cobalah untuk aktif bertanya dan berdiskusi kepada dosen atau teman, dan membuat kelompok belajar. Jangan merasa cukup hanya dari penjelasan dosen dan materi kuliah saja. Cobalah belajar dengan menggunakan games dan media lainnya agar membuat pelajaran lebih menarik. Belajar bahasa Jepang akan lebih efektif apabila didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai seperti belajar bahasa Jepang dengan mendatangkan native speaker (penutur asli), membuat perpustakaan jurusan (khususnya perpustakaan jurusan bahasa Jepang) dengan menyediakan buku-buku literatur yang menunjang perkuliahan.
Sumber