Perpustakaan judul masih dalam tahap pengembangan, admin siap menampung kritik dan saran
Analisis Kinerja Keuangan Berdasarkan SK Menteri Bumn No. Kep-100/MBU/2002 pada Perusahaan Semen di Indonesia (Studi Kasus di PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Tahun 2014 - 2017)
Ridla Fatimah S (2020) | Tugas Akhir | Akuntansi
Bagikan
Ringkasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis kinerja keuangan pada PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk tahun 2014 sampai dengan 2017 berdasarkan rasio rentabilitas, likuiditas, aktivitas dan solvabilitas menurut Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002. Penilaian kinerja keuangan tersebut menggunakan delapan indikator yaitu Return On Equity (ROE), Return On Investment (ROI), Cash Ratio, Current Ratio, Collection Periods (CP), Perputaran Persediaan (PP), Total Asset Turn Over (TATO) dan Total Modal Sendiri terhadap Total Aset (Tms terhadap TA). Hasil penilaian kinerja keuangan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk menunjukkan bahwa rasio rentabilitas, likuiditas dan aktivitas kedua perusahaan cukup baik karena memenuhi kriteria meskipun terjadi penurunan. Rasio solvabilitasnya kurang baik karena lebih banyak modal pinjaman daripada modal sendiri yang digunakan untuk mengelola harta perusahaan.
Ringkasan Alternatif
This study aims to determine and analyze the financial performance of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk and PT Semen Indonesia (Persero) Tbk from 2014 to 2017 based on profitability, liquidity, activity and solvency ratios according to Minister of SOE Decree No. KEP-100 / MBU / 2002. The financial performance evaluation uses eight indicators, namely Return On Equity, Return On Investment, Cash Ratio, Current Ratio, Collection Periods, Inventory Turnover, Total Asset Turn Over and Total Own Capital to Total Assets (Tms to TA). The results of the financial performance assessment of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk and PT Semen Indonesia (Persero) Tbk show that the ratio of profitability, liquidity and activities of the two companies is quite good because it meets the criteria despite the decline. The solvency ratio is not good because more loan capital than own capital is used to manage company assets.