Perpustakaan judul masih dalam tahap pengembangan, admin siap menampung kritik dan saran
ANALISIS KUALITAS JASA PELAYANAN KERETA API
PARAHYANGAN KELAS BISNIS JURUSAN BANDUNG-JAKARTA
DENGAN MENGGUNAKAN PARASURAMAN’S SERVQUAL METHOD
Studi kasus di
PT. KERETA API (PERSERO)
Soni Sonjaya (2006) | Skripsi | Teknik Industri , Teknik Industri
Bagikan
Ringkasan
Kunci keberhasilan dari suatu bisnis yang bergerak dalam bidang jasa adalah
pelayanan yang berorientasi kepada pelanggan hal ini merupakan persyaratan
utama dalam menunjang keberhasilan, dilihat dari sudut pandang industri jasa
yang mana pelanggan jasa terlibat langsung kedalam proses produksi industri
tersebut. Oleh sebab itu untuk mengukur keberhasilan yang diperoleh ditentukan
oleh pelanggan itu sendiri hal ini dipengaruhi dengan apa yang disampaikan pihak
penyedia jasa apakah telah memenuhi harapan pelanggan.
Metode Parasuraman’s servqual method yang dikembangkan oleh, Zeithamel,
Parasuraman, dan Berry (1990) adalah salah satu metode dalam mengukur kualitas
pelayanan dalam bidang jasa. Metode ini dibagi kedalam lima dimensi kualitas
pelayanan, yaitu dimensi reliability (keandalan), resvonsiveness (daya
tanggap), assurance (jaminan), empathy (empati), dan tangibles (produkproduk
fisik). Kelima dimensi ini kemudian dikembangkan sesuai dengan kualitas
pelayanan jasa yang diamati. Parasuraman et, al. mengidentifikasikan kualitas
pelayanan kedalam lima jenis konseptual kesenjangan (gap), dalam penelitian ini
kesenjangan yang diamati yaitu kesenjangan (gap) 1 dan (gap) 5.
Parasuraman’s servqual method, yang dipakai untuk pengidentifikasian kualitas
pelayanan yaitu menggunakan gap 1 yaitu melihat kesenjangan antara persepsi
karyawan terhadap kualitas pelayanan yang diharapkan penumpang terhadap
kualitas harapan pelayanan penumpang yang sebenarnya, dan 5 yaitu kesenjangan
antara harapan penumpang dengan keyataan pelayanan yang dirasakan
penumpang, dari hasil penelitian ini ditunjukkan, bagaimana kualitas pelayanan
jasa pada kereta api Parahyangan kelas bisnis jurusan Bandung-Jakarta, mengenai
kualitas pelayanan yang terdiri dari 36 pertanyaan yang terbagi kedalam lima
dimensi
Dari hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan, untuk gap 1 (satu) persepsi
karyawan terhadap harapan kualitas pelayanan penumpang telah dapat dimengerti
oleh karyawan dengan melihat harapan penumpang yang sebenarnya. Dan untuk
gap 5 (lima) yaitu kesenjangan antara harapan penumpang dengan kenyataan
pelayannan yang sebenarnya, dapat disimpulkan dari semua dimensi dinyatakan
tidak puas terhadap pelayanan jasa tersebut.
Ringkasan Alternatif
Kunci keberhasilan dari suatu bisnis yang bergerak dalam bidang jasa adalah
pelayanan yang berorientasi kepada pelanggan hal ini merupakan persyaratan
utama dalam menunjang keberhasilan, dilihat dari sudut pandang industri jasa
yang mana pelanggan jasa terlibat langsung kedalam proses produksi industri
tersebut. Oleh sebab itu untuk mengukur keberhasilan yang diperoleh ditentukan
oleh pelanggan itu sendiri hal ini dipengaruhi dengan apa yang disampaikan pihak
penyedia jasa apakah telah memenuhi harapan pelanggan.
Metode Parasuraman’s servqual method yang dikembangkan oleh, Zeithamel,
Parasuraman, dan Berry (1990) adalah salah satu metode dalam mengukur kualitas
pelayanan dalam bidang jasa. Metode ini dibagi kedalam lima dimensi kualitas
pelayanan, yaitu dimensi reliability (keandalan), resvonsiveness (daya
tanggap), assurance (jaminan), empathy (empati), dan tangibles (produkproduk
fisik). Kelima dimensi ini kemudian dikembangkan sesuai dengan kualitas
pelayanan jasa yang diamati. Parasuraman et, al. mengidentifikasikan kualitas
pelayanan kedalam lima jenis konseptual kesenjangan (gap), dalam penelitian ini
kesenjangan yang diamati yaitu kesenjangan (gap) 1 dan (gap) 5.
Parasuraman’s servqual method, yang dipakai untuk pengidentifikasian kualitas
pelayanan yaitu menggunakan gap 1 yaitu melihat kesenjangan antara persepsi
karyawan terhadap kualitas pelayanan yang diharapkan penumpang terhadap
kualitas harapan pelayanan penumpang yang sebenarnya, dan 5 yaitu kesenjangan
antara harapan penumpang dengan keyataan pelayanan yang dirasakan
penumpang, dari hasil penelitian ini ditunjukkan, bagaimana kualitas pelayanan
jasa pada kereta api Parahyangan kelas bisnis jurusan Bandung-Jakarta, mengenai
kualitas pelayanan yang terdiri dari 36 pertanyaan yang terbagi kedalam lima
dimensi
Dari hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan, untuk gap 1 (satu) persepsi
karyawan terhadap harapan kualitas pelayanan penumpang telah dapat dimengerti
oleh karyawan dengan melihat harapan penumpang yang sebenarnya. Dan untuk
gap 5 (lima) yaitu kesenjangan antara harapan penumpang dengan kenyataan
pelayannan yang sebenarnya, dapat disimpulkan dari semua dimensi dinyatakan
tidak puas terhadap pelayanan jasa tersebut.