Logo Eventkampus
Perpustakaan judul masih dalam tahap pengembangan, admin siap menampung kritik dan saran
Perancangan Media Informasi Doger Kontrak Kesenian Tradisional Subang
Esa Apri Maulana Barkah NIM. (2016) | Skripsi | Desain Komunikasi Visual
Bagikan
Ringkasan
Doger merupakan Kesenian asal Kabupaten Subang, Jawa Barat, yang cukup unik. Berfungsi sebagai seni pergaulan, upacara adat, dan hiburan seperti: hiburan rakyat, upacara sebelum penanaman padi, dan ritual doa untuk suatu daerah yang sudah berlangsung sebelum kedatangan inggris tahun 1812. Kelompok doger kemudian menghibur pekerja kontrak perkebunan hingga 1944 karena pada saat itu terjadi perang dunia. Pada tahun 1970-1980 Doger mulai berkurang tergeser oleh seni tari jaipongan, tahun 1985-1990 Doger beralih fungsi menjadi seni pertunjukan direkonstruksi oleh Nanu munajah dahlan dan beliau merubah nama kesenian tradisional doger menjadi doger kontrak. Berdasarkan hasil kuesioner kepada 50 masyarakat didaerah Kabupaten Subang, mayoritas dari masyarakat tidak mengetahui tentang kesenian tradisional doger kontrak. 26% (13 orang) mengetahui, 68% (34 orang) tidak mengetahui, dan 6% (3 orang) tidak memberi tanggapan. Hasil analisa ini jelas menunjukan kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap kesenian tradisional doger kontrak. Dengan adanya media informasi tentang kesenian tradisional doger kontrak, dengan harapan masyarakat sadar akan pentingnya pelestarian kesenian tradisional yang dimiliki.
Ringkasan Alternatif
Doger an original Art Subang, West Java , which is quite unique . Functioning as an art association , ceremonies , and entertainment such as popular entertainment, ceremony before planting rice , and prayers for an area that is already underway prior to the arrival of the English in 1812. The group then entertained doger plantation contract workers until 1944 because at that time there is a war world. In 1970-1980 Doger began to decrease displaced by dance jaipongan, years 1985-1990 Doger converted into a performing arts reconstructed by Nanu Munajah Dahlan and he changed the name of the traditional arts doger be doger kontrak. Based on the results of questionnaires to 50 communities in the district of Subang, the majority of people do not know about the traditional art doger kontrak. 26% (13 people) know, 68% (34 people) do not know, and 6% (3) is not responding. The results of this analysis clearly shows a lack of public knowledge of the traditional arts doger kontrak. With the media information about the traditional art doger kontrak, the expectations of society aware of the importance of preserving the traditional art owned.
Sumber