Logo Eventkampus

POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER (PTSD) JUGA MENYERANG PELAKU CYBERBULLYING?

access_time | label Lainnya
Bagikan artikel ini
POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER (PTSD) JUGA MENYERANG PELAKU CYBERBULLYING?

Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau stress pasca trauma merupakan gangguan mental pada seseorang berupa kecemasan yang dapat terjadi setelah mengalami atau menyaksikan suatu kejadian traumatis tertentu seperti kekerasan seksual, peperangan, kecelakaan lalu lintas atau peristiwa lain yang dapat mengancam kehidupan seeorang. PTSD merupakan gangguan mental yang serius dan tidak bisa disepelekan. Orang dengan PTSD biasanya mengalami beberapa gejala seperti munculnya ingatan kembali mengenai peristiwa traumatic yang pernah dialaminya; munculnya pikiran negatif pada diri sendiri dan orang lain; merasa takut, marah, malu dan merasa bersalah; mimpi berulang mengenai kejadian traumatis; adanya reaksi fisik dan psikologis pada terhadap situasi yang menyerupai kejadian traumatis; serta gangguan lain seperti waspada berlebih, gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, serta emosi yang meledak-ledak. PTSD dapat dialami anak-anak, remaja bahkan dewasa. Salah satu tindakan yang dapat memicu PTSD adalah cyberbullying.


Cyberbullying merupakan segala bentuk kekerasan melalui sosial media seperti melecehkan, mempermalukan, mengejek, bahkan mengancam orang lain. Hampir mirip seperti bullying pada umumnya, hanya saja cyberbullying bisa dilakukan tanpa memerlukan tatap muka secara langsung antara pelaku dan korbannya. Selain itu, cyberbullying dilakukan tanpa melibatkan kekuatan fisik. Meskipun begitu cyberbullying tetaplah sebuah kejahatan karena berbahaya dan memiliki dampak negatif bagi khususnya bagi korban. Salah satu dampak negatif cyberbullying adalah terjadi ganggaun stress pascsa trauma atau PTSD bagi yang terlibat. Tidak hanya dialami oleh korbannya, ganggaun stress pasca trauma ternyata juga bisa dialami oleh pelakunya. Hal ini dibuktikan dalam sebuah penelitian yang berjudul "Cyberbullying linked to post traumatic stress for victims and perpetrators”. Penelitian tersebut melibatkan 2218 remaja murid sekolah menengah di London, Inggris. Setelah dilakukan survey, temuan menunjukkan bahwa 46% siswa mengalami berbagai jenis bullying: 17% sebagai korban; 12% sebagai pelaku; dan 4% sebagai korban dan pelaku. Namun bullying tradisional lebih sering terjadi daripada cyberbullying. Dari survey tersebut menunjukkan bahwa 13% remaja menjadi korban cyberbullying; 8.5% menjadi pelaku cyberbullying dan 4% sebagai keduanya. Dari penelitian tersebut juga diketahui bahwa korban cyberbullying lebih banyak menunjukkan gejala PTSD daripada pelakunya. Korban cyberbullying lebih banyak mengalami gangguan pikiran dan melakukan perilaku penghindaran terhadap situasi tertentu. Namun, pelaku cyberbullying juga lebih banyak mengalami gejala gangguan stress pasca trauma dibanding mereka yang tidak terlibat sama sekali dalam berbagai jenis bullying. Peneliti juga menyarankan kepada orangtua, guru, dan tenaga kesehatan professional untuk lebih menyadari gejala PTSD pada remaja. Perlu dipehatikan, penelitian ini hanya merepresentasikan remaja di Inggris dan temuan tidak bisa disamakan dengan daerah atau negara lain.


Referensi:

Ainoa Mateu, Ana Pascual-Sanchez, Maria Matinez-Herves, Nicole Hickey, Dasha Nicolls, Tami kRamer. Cyberbullying and post-traumatic stress symptoms in UK adolescents. Archives of Disease in Childhood, 2020: arcjdischild-2019-318716 DOI: 10.1136/archdischild-2019-318716

BMJ. (2020, June 23). Cyberbullying linked to post traumatic stress for victims and perpetrators: Children should be screened for symptoms, suggest researcher. ScienceDaily. Retrieved March 18, 2022 from https://www.sciencedaily.com/releases/2020/06/200623185242.htm


Penulis

foto Vyta Bella
Vyta Bella

Komentar