MACAN LAWU DAN JALAK LAWU

access_time | label Berita
MACAN LAWU DAN JALAK LAWU

 

Lawu bertengger di salah satu deretan gunung yang cukup diajeni oleh warga Jawa, terlebih lagi mereka yang bertempat tinggal di area sekitarnya. Sebab bukan menjadi rahasia lagi jika Lawu sering digunakan oleh masyarakat untuk bertapa dengan tujuan mencari wangsit, kejayaan, kekuatan, bahkan pesugihan.

Macan Lawu dan kemunculan harimau Lawu yang mistis

Meski kerap dikaitkan dengan mitos gunung Lawu, Macan Lawu sendiri merupakan binatang endemik Lawu. Sedangkan sosok lain yang dianggap penampakan ghaib adalah harimau Lawu.

Harimau Lawu ini kerap muncul di saat nggak terduga. Yang bikin bulu kuduk berdiri, kemunculannya selalu diikuti peristiwa mistis, seperti penemuan mayat. Nggak jarang, harimau lawu ini muncul di tempat-tempat yang dikeramatkan warga setempat.

Jika Kamu pernah mendaki Lawu via Cemoro Kandhang, mungkin Kamu ingat keberadaan patung harimau di salah satu punden yang ada di Lawu yang diberi nama Eyang Singo Sinebahing Dilah. Punden ini sendiri menjadi tempat pemujaan bagi mereka yang hendak menjalani ritual pertapaan atau lainnya.

Di lain kisah, ada warga yang bercerita, bahwa setiap malam 1 Suro banyak pertapa yang melakukan ritual di Lawu. Tujuan mereka pun bermacam-macam, ada yang minta kesaktian, kekebalan, atau pun kekayaan. Sebagai pertanda adanya wangsit yang turun, warga sering menjumpai sesosok manusia yang berbulu loreng hampir menyerupai harimau. Kemunculan makhluk tersebut menjadi tanda bahwa hajat sang pertapa telah diterima dan sang pertapa telah diberi kekuatan ghaib.

Pernah diikuti burung jalak waktu mendaki Lawu? Kamu beruntung

Dulu sewaktu pertama kali saya mendaki Lawu, salah seorang senior berkata,

“Nduk kalau nanti di jalan ketemu burung jalak diikuti saja, sudah ga usah diganggu. Itu nanti nunjukin jalan sampe ke puncak. Jadi kalau ada apa-apa,kalau merasa nyasar, kamu ikuti saja itu burung jalak”

dan cerita mitos itu seolah menjadi titah seketika itu juga. Sepanjang perjalanan dari pos Cemoro Sewu hingga ke puncak, ada satu burung jalak yang mengikuti langkah saya. Setiap kali saya beristirahat, burung ini ikut berhenti nggak jauh dari tempat saya. Meskipun mau bilang ini cuma mitos Gunung Lawu, tapi saya juga akan bilang kalau ini nyata.

Mitos burung jalak di Lawu berawal dari sebuah legenda, bahwa ketika Prabu Brawijaya memutuskan untuk menetap di Gunung Lawu, ia disambut oleh seekor burung jalak. Ketika itu sang burung menyambut sang Prabu dengan beralih wujud menjadi seorang prajurit yang kemudian mengantarkan sang Prabu menuju puncak Gunung Lawu. Dari situlah sebuah mitos burung jalak Lawu mulai merebak. Disebut-sebut makhluk inilah yang sampai saat ini menjelma menjadi seekor burung jalak.

Mitos gunung Lawu soal burung jalak ini sepertinya hampir diketahui setiap pendaki yang mendaki ke Lawu. Bukan itu saja, larangan untuk mengganggu dan membunuh juga terus didengungkan. Hal ini berujung pada keyakinan bahwa bagi siapapun yang hatinya kotor dan berniat jahat pada sang burung, ia akan tersesat atau bahkan mendapatkan musibah.

Penulis

foto joni saputra
joni saputra

Artikel Terkait

Share

Komentar