Penerima Dosen Saintek Berprestasi Tekankan Pentingnya Hilirisasi Riset

access_time | label Berita
Penerima Dosen Saintek Berprestasi Tekankan Pentingnya Hilirisasi Riset

Dua sivitas akademika UGM berhasil meraih Anugerah Pendidik dan Tenaga Pendidik (DIKTENDIK) Berprestasi 2019 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jendral Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti. Anugerah tersebut mereka terima setelah mengikuti rangkaian acara Diktendik Berprestasi 2019 yang digelar sejak 26-28 Oktober 2019 lalu di Jakarta.

Mereka adalah Ir. Alva Edy Tantowi, M.Sc., Ph.D., sebagai juara 2 kategori Dosen Sains dan Teknologi Berprestasi, serta Ully Isnaeni Effendi, A.Md., S.E., sebagai juara 1 kategori Arsiparis Berprestasi. Mereka berhasil terpilih setelah melewati tahap seleksi awal yang diikuti 279 orang. Kemudian berhasil memperoleh gelar tadi setelah bersaing dengan 10 orang di masing-masing kategori.

Salah seorang dari kedua pemenang, yakni Alva, menyatakan bahwa dirinya tidak menyangka bisa mendapatkan anugerah tersebut. Menurut pengakuan dosen Teknik Mesin dan Industri ini,  apa yang selama ini dirinya lakukan hanya menjalankan tridarma perguruan tinggi.

“Kami telah disumpah sejak menjadi dosen untuk menjalankan tridarma tersebut. Lalu, sebagai seorang insinyur, tentu hasil kerja kami berupa produk, bukan teori. Jadi, saya hanya menjalankan amanat yang diembankan kepada saya semata,” ungkap Alva ketika ditemui pada Rabu (30/10) di Departemen Teknik Mesin dan Industri.

Jika dibedah tiga aspek dari tridarma tersebut, dimulai dari penelitian, Alva menyebut bahwa secara rutin dirinya selalu terlibat penelitian baru. Salah satunya adalah perangkat terapi jantung Intravaskular dengan stent yang telah memiliki paten. Sementara sekarang ini, ia sedang merancang alat untuk membantu melancarkan tersumbatnya pembuluh darah di otak yang biasanya menyebabkan penyakit stroke.

Alva mengungkapkan bahwa beberapa tahun ini fokus penelitiannya ada pada bidang biomedis. Ketertarikannya tersebut diawali ketika ia kehilangan sang ayah karena penyakit tumor otak. Ketika itu, ia bertekad untuk membuat sebuah alat yang dapat membantu agar proses medis lebih efektif dan persentase pasien selamat lebih tinggi.

Kemudian dari pengabdian, Alva juga terlibat dalam berbagai program. Beberapa di antaranya seperti peningkatan mutu tapal kuda andong di titik nol kilometer yang dulu sempat ramai setelah direnovasi karena banyak kuda berjatuhan karena licin. Kemudian, ia juga terlibat dalam program pengembangan  Mina Pond untuk wisata edukasi dan rekreasi masyarakat di Desa Margodadi, Seyegan, Sleman.

Selain itu, Alva mengungkapkan masih banyak lagi program pengabdian yang dirinya terlibat di dalamnya, termasuk ikut terlibat dalam pembangunan hunia sementara bagi korban gempa di Mataram Lombok. Ia mengungkapkan membantu masyarakat sudah menjadi kepuasan tersendiri baginya.

Terakhir mengenai pengajaran, Alva menyebut bahwa hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari kedua darma sebelumnya. Hal itu karena apa yang ia ajarkan kepada mahasiswa biasanya tidak lepas dari hasil penelitian serta pengabdiannya.

Namun, secara nilai selama menjadi dosen, Alva selalu menekankan kepada mahasiswanya untuk menjadi risk taker. Ia menerangkan bahwa seorang insinyur tanpa memiliki keberanian maka hanya akan menghasilkan ide saja, tidak ada produknya. “Seorang insinyur dituntut untuk menjadi seorang risk taker dan kreatif. Ketika mereka sudah memiliki keduanya maka hasilnya adalah sebuah inovasi,” tekannya.

Ketika ditanya mengenai kenapa hanya mendapat peringkat kedua, Alva mengungkapkan bahwa sejujurnya dirinya tidak mengetahui tepatya penilaian dari juri. Namun, ia menduga karena kurangnya publikasinya terindeks dan tersitasi. “Karya saya yang telah terindeks dan tersitasi kurang lebih hanya berjumlah lima saja. Sementara yang peringkat pertama indeksnya sekitar empat belas,” ungkapnya.

Akan tetapi, menurut Alva, jika dilihat dari jumlah program, baik penelitian maupun pengabdian, dirinya lebih unggul secara kuantitas. Hanya saja, kesemuanya itu masih belum banyak yang terindeks dan tersitasi.

Alva menyatakan ceritanya akan lain lagi jika produk yang dikembangkannya sudah masuk pasaran. Hal itu, katanya, akan mendapat nilai lebih karena jika sudah masuk pasaran tentu dampaknya bisa dilihat dari pemakaian tidak lagi dari indeks dan sitasi. Oleh karena itu, ia berpesan bagi sivitas akademika di UGM, utamanya para dosen, agar riset-risetnya bisa sampai tahap hilirisasi.

“Bukan hanya untuk diakui dengan penghargaan, tapi saat ini kita memang butuh riset agar sampai dihilirkan produk hasilnya, termasuk di UGM juga. Saya pernah ke Italia, di sana bisa mencapai 100 riset yang dihilirisasi per tahunnya. Begitu juga di Korea, namun 500 per lima tahunnya. Kita lihat perkembangan di sana, dari otomotif, teknologi, hingga infrastruktur sangat maju,” ungkapnya.

Melihat hal tersebut, Alva menyebut bahwa di Indonesia, atau kalau tidak di UGM saja, jika tiap dosen bisa membuat satu penelitian dalam jangka waktu tertentu, tapi sampai tahap hilirisasi. Hal itu akan memunculkan produk-produk baru yang akan semakin menjamur, dan tentunya akan menguatkan ketahanan ekonomi negeri ini.

“Yang membuat bangkrut negeri ini adalah riset-riset yang telah didanai, namun tidak ada produknya, hanya sampai publikasi saja. Padahal, dana riset tersebut juga dari rakyat, tentu harus kita kembalikan ke rakyat dalam bentuk produk yang bermanfaat. Mari kita bersama mengingat dan memperbaiki hal ini,” pungkasnya. (Humas UGM/Hakam;foto: Firsto)

 


Sumber : https://ugm.ac.id/id/berita/18652-penerima-dosen-saintek-berprestasi-tekankan-pentingnya-hilirisasi-riset

Penulis

foto Berita Kampus
Berita Kampus
Namaku Tom, saya akan memberikan informasi/ berita seputar kampus yang ada di Indonesia

Artikel Terkait

Share

Komentar