Logo Eventkampus

Pendidikan Tinggi Kedokteran Harus Responsif dan Antisipatif di Era Revolusi Industri 4.0

access_time | label Berita
Bagikan artikel ini
Pendidikan Tinggi Kedokteran Harus Responsif dan Antisipatif di Era Revolusi Industri 4.0

Pendidikan tinggi kedokteran dan kesehatan tidak dapat terlepas dari pengaruh era revolusi industri 4.0. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D., Staf Ahli Kemenristek/Badan Riset dan Inovasi Nasional RI, ketika menjadi pembicara kunci acara “Annual Scienctific Meeting 2020” Sabtu (29/2) di Auditorium FKKMK UGM. Acara ini diselenggarakan oleh KAGAMA Kedokteran untuk merayakan peringatan Dies FKKMK ke-74, HUT RSUP Dr. Sardjito ke-38, HUT RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro ke-92, dan HUT RSA UGM ke-8.

Ali Ghufron menjelaskan dalam era revolusi industri 4.0 atau yang disebutnya era disrupsi ini, inovasi di bidang pendidikan, termasuk pendidikan kedokteran, harus memperhatikan berbagai karakteristik dan kecenderungan masyarakat di era ini. Hal itu seperti serba digital, internet of thing, big data, artificial intelegence, roboting, augmented reality, dan lain sebagainya.

Dalam menanggapi hadirnya era ini, menurut Ghufron, Dikti telah mentransformasi peran perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang bukan hanya sebagai agent of education and research tapi juga menjadi agent of culture, knowledge, and technology transfer. Ia menyebut perguruan tinggi didorong agar lulusannya mampu menjadi agent of economic development.

Dengan demikian, tantangan dari pendidikan tinggi kedokteran, termasuk FKKMK UGM, adalah mengupayakan penelitian dan inovasi teknologi tepat guna di bidang kesehatan. “Di era ini sudah seharusnya hadir teknologi seperti hello doc, online consultation, automatic reading health test, telemedicine EKG yang bisa dibaca kapan saja dan di mana saja,” ungkapnya.

Sementara untuk bidang farmasi, Ghufron menerangkan tantangannya adalah kemandirian dalam penyediaan bahan baku obat dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa. Ia mengungkapkan bahwa dari Data BPOM RI tercatat industri farmasi di Indonesia berkisar 280 perusahaan, tetapi industri untuk bahan bakunya minim, sehingga 95 persen bahan harus impor dari luar negeri.

Ghufron menuturkan bahwa kontribusi pendidikan tinggi kedokteran, kesehatan, serta farmasi saat ini semakin dituntut untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang lebih tinggi dalam era Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). “Mahalnya alat kesehatan dan harga obat masih menjadi tantangan untuk mewujudkan Universal Health Coverage (UHC) yang pada tahun 2019 belum tercapai,” paparnya.

Tiga komponen pokok yang Ghufron haruskan untuk beradaptasi di era distrupsi ini ialah mahasiswa, sarana prasarana, dan dosen. Ketiga komponen pokok ini, menurutnya, menjadi penting dalam menciptakan atmosfer pendidikan.

“Mahasiswa saat ini kebanyakan dari generasi Z merupakan digital native yang sehari-harinya berinteraksi, bahkan tidak bisa lepas dari dunia yang serba digital. Sebaliknya dosen yang didominasi generasi baby boomers dan generasi X merupakan digital immigrant. Kesenjangan antara dosen dan mahasiswanya ini, membuat mereka perlu untuk meningkatkan kompetensinya agar dapat beradaptasi dengan mahasiswanya, utamanya dalam proses mengajar,” terangnya.

Terakhir, Ghufron mengingatkan bahwa hanya fakultas atau pendidikan tinggi kedokteran, kesehatan, dan farmasi yang responsif dan antisipatif nantinya dapat terus eksis dan kontributif. “Pendidikan tinggi diharapkan tidak hanya terhadap orientasi pengembangan kurikulum dan learning outcome yang sesuai kebutuhan pembangunan, tetapi juga memikirkan bagaimana bisa hilirasis ke industri,” pungkasnya.

Penulis: Hakam



Sumber : https://ugm.ac.id/id/berita/19076-pendidikan-tinggi-kedokteran-harus-responsif-dan-antisipatif-di-era-revolusi-industri-4-0

Penulis

foto Berita Kampus
Berita Kampus
Namaku Tom, saya akan memberikan informasi/ berita seputar kampus yang ada di Indonesia

Artikel Terkait

Tim NL_Mawib UGM Juara Kompetisi Finhac 2019
28 November 2019
Ganjar : Kagama Harus Beri Dampak Positif Bagi Masyarakat
16 Desember 2019
Proses Pemasakan Matikan Parasit Cacing pada Ikan
02 Maret 2020
Guru Besar UGM: Jangan Sembarangan Konsumsi Klorokuin
24 Maret 2020
Cegah Penyebaran Corona Dengan Monitoring Pemudik
02 April 2020
Ahli Gizi UGM Paparkan Manfaat Sayur Lodeh Bagi Tubuh
28 April 2020

Komentar